BIS Peringatkan Risiko Stabilitas Keuangan dari Boom Investasi AI
BIS menilai gelombang investasi AI perlu diawasi karena valuasi tinggi, konsentrasi pasar, serta pembiayaan utang dan private credit dapat menambah kerentanan.

Bank for International Settlements atau BIS menilai pesatnya investasi kecerdasan artifisial mulai memiliki dampak yang cukup besar terhadap kondisi ekonomi dan keuangan global. Peringatan itu disampaikan General Manager BIS Pablo Hernández de Cos dalam pidato pada Global Fintech Fest 2026 di Mumbai, India, 10 September 2026. Ia membahas bagaimana AI memengaruhi pertumbuhan, produktivitas, pasar keuangan, dan tantangan bagi bank sentral.
BIS mencatat lima perusahaan teknologi terbesar diperkirakan membelanjakan lebih dari satu triliun dolar untuk belanja modal terkait AI selama 2025 dan 2026. Pelaku industri juga memperkirakan investasi AI global yang saat ini sekitar 500 miliar dolar dapat meningkat menjadi sekitar tiga hingga empat triliun dolar pada 2030. Skala tersebut membuat perkembangan AI semakin relevan bagi stabilitas makroekonomi.
Salah satu perhatian BIS adalah perubahan cara investasi tersebut dibiayai. Belanja modal perusahaan besar mulai melampaui arus kas mereka, sehingga ketergantungan terhadap utang dan private credit meningkat. BIS menyebut sebagian pembiayaan tersebut bersifat kurang transparan dan saling terhubung. Selain itu, valuasi saham perusahaan yang berada di pusat pengembangan AI juga tinggi dan semakin terkonsentrasi pada sejumlah kecil perusahaan.
BIS tidak menyimpulkan bahwa ledakan investasi AI pasti berakhir buruk, tetapi menilai kecepatan pertumbuhan investasi dan besarnya ekspektasi keuntungan perlu diperhatikan. Jika hasil komersial tidak sesuai harapan, koreksi investasi dan valuasi dapat menimbulkan tekanan yang lebih luas. Reuters melaporkan peringatan tersebut sebagai isu stabilitas keuangan baru yang perlu dipantau oleh bank sentral dan regulator.
