BMKG: Atmosfer Kering Dominan, Karhutla dan Asap Meluas Sepekan Ini
BMKG memprakirakan kondisi kering masih mendominasi Indonesia pada 15–21 September, tetapi hujan lokal dan angin kencang tetap perlu diwaspadai.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprakirakan kondisi atmosfer kering masih mendominasi banyak wilayah Indonesia pada periode 15 hingga 21 September 2026. Berdasarkan pemantauan hingga Dasarian I September, sekitar 81 persen Zona Musim telah memasuki musim kemarau. BMKG juga mencatat 1.637 titik mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.
BMKG menyebut kondisi kering diperkuat oleh El Niño yang masih berada dalam kategori sangat kuat. Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat sebesar positif 2,76 derajat Celsius pada Dasarian I September. Kombinasi minimnya hujan dan kondisi atmosfer yang kering meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta penyebaran asap. Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terdeteksi di sejumlah wilayah.
Meski kemarau mendominasi, peluang hujan tetap ada secara lokal. Untuk periode 15 hingga 17 September, BMKG memprakirakan hujan sedang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, serta Papua. Aceh dan Sumatra Utara masuk kategori siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat. Potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di sejumlah provinsi, termasuk Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Kalimantan Selatan, dan sebagian Papua.
Dalam prakiraan harian Selasa pagi, BMKG juga menyebut beberapa kota berpotensi mengalami hujan ringan hingga sedang, sementara sejumlah kota lain didominasi awan tebal, udara kabur, atau asap. Masyarakat diminta terus memperbarui informasi cuaca karena prakiraan dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer. Informasi lokal yang lebih rinci sebaiknya merujuk pada kanal resmi BMKG untuk wilayah masing-masing, terutama ketika melakukan perjalanan atau aktivitas luar ruang.
