AnalisisEkonomiTimur Tengah

Harga Minyak Naik saat Risiko Gangguan Hormuz dan Laut Merah Membesar

Pasar energi merespons peningkatan serangan di Timur Tengah dan ancaman gangguan terhadap dua jalur pelayaran strategis dunia.

1 menit baca
1 sumberDiperbarui 16 Jul 2026
Ilustrasi editorial kapal tanker melintasi jalur laut strategis di tengah ketegangan regional.
Ilustrasi editorial kapal tanker melintasi jalur laut strategis di tengah ketegangan regional. · Ilustrasi AI oleh Nexa Ventures - visual konseptual
Report starts here

Harga minyak naik lebih dari satu persen pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, ketika pelaku pasar menilai risiko gangguan pasokan akibat peningkatan konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta ancaman terhadap jalur pelayaran Laut Merah.

Dua selat penting menjadi perhatian pasar

Iran dilaporkan meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur minyak Laut Merah apabila infrastruktur listrik Iran diserang. Gangguan bersamaan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat memperbesar tekanan rantai pasok, membatasi ketersediaan kapal tanker, serta menaikkan biaya asuransi.

Pada pukul 14.20 GMT, minyak Brent tercatat naik 1,09 persen menjadi 85,88 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate meningkat 1,12 persen menjadi 80,49 dolar AS. Volume minyak yang melintasi Bab el-Mandeb pada Juni diperkirakan mencapai 7,4 juta barel per hari.

Situasi menjadi sensitif karena Selat Hormuz sebelumnya menangani sekitar seperlima perdagangan harian minyak dan gas alam cair dunia. Setiap pembatasan pelayaran dapat memengaruhi biaya energi, logistik, dan inflasi di berbagai negara.