Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Perkuat Stabilisasi
Bank Indonesia menyebut pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS dipengaruhi tekanan inflasi global, harga minyak, dan arus modal.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan 29 September 2026 menyentuh level sekitar Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Bank Indonesia menyatakan tekanan terhadap rupiah dipengaruhi berlanjutnya kekhawatiran pasar mengenai inflasi global dan risiko fiskal. Harga minyak yang berada di atas 108 dolar AS per barel di tengah ketidakpastian Selat Hormuz juga ikut mendorong ekspektasi bahwa kebijakan moneter Amerika Serikat dapat kembali mengetat.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyebut imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali meningkat hingga sekitar 5,23 persen. Selain faktor global, kebutuhan valuta asing importir menjelang akhir kuartal ketiga serta arus keluar dana dari aset negara berkembang ikut memberikan tekanan terhadap mata uang domestik.
Bank Indonesia menyatakan terus berada di pasar untuk menjaga mekanisme perdagangan berjalan baik dan nilai tukar tetap sesuai fundamental. Intervensi dilakukan melalui transaksi NDF di pasar luar negeri, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. BI juga mencatat cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi sekitar 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.
